Problematika Pendidikan Islam Kontemporer

Sepertinya masalah pendidikan tidak akan pernah selesai untuk dibicarakan, karena soal ini akan selalu terkait dengan kontekstualitas kehidupan umat manusia sepanjang zaman.

Setiap perkembangan peradaban manusia sudah barang tentu selalu diikuti oleh berbagai dimensi kehidupan manusia itu sendiri, termasuk di dalamnya dimensi pendidikan. Berbagai pemikiran telah dikembangkan oleh para pakar tentang hakikat, makna, dan tujuan pendidikan.

Warna pemikiran itu sudah tentu amat dipengaruhi oleh pandangan hidup dan nilai-nilai budaya yang dianut oleh para pakar tersebut. Akan tetapi, dengan segala perbedaan pandangan yang mereka kemukakan, dalam satu hal mereka sama-sama setuju bahwa pendidikan bertujuan untuk memberi bekal moral, intelektual, dan keterampilan kepada anak didik agar mereka siap menghadapi masa depannya dengan penuh percaya diri.

Dalam uraian di atas perlu kiranya dipahami bahwa pendidikan Islam saat ini mengalami banyak sekali masalah yang menjadikan pendidikan islam dinomorduakan.

Oleh karenanya. Dalam artikel kali ini Tesis Pendidikan akan memberikan wawasan mengenai masalah pendidikan islam, yang tujuan dari penulisan artikel ini ialah membangun persepsi bahwa pendidikan Islam penting dalam kehidupan sebagai penyempurna ilmu.

Munculnya gejala mengabaikan dimensi pendidikan, dalam arti akhlak mulia, di negara kita disebabkan beberapa hal meliputi:

  1. Pertama, landasan pendidikan kita lebih mengacu pada filsafat materialisme dan positivisme sehingga hasil pendidikan lebih dilihat dan dinilai dari aspek materi dan lahirian saja.
  2.  Kedua, dasar filosofi pendidikan kita telah menyimpang dari jiwa kemanusiaan yang hakiki.  Proses dan hasil pendidikan tidak banyak menampakkan wajah kemanusiaannya, tetapi justru sebaliknya, yang muncul adalah perilaku-perilaku yang menyerupai serigala, yaitu yang kuat memangsa yang lemah.
  3. Ketiga, kuatnya intervensi negara dalam dunia pendidikan sehingga banyak mereduksi ruang-ruang kreativitas dan imajinasi kemanusiaan. Akibatnya, produk pendidikan lebih banyak melahirkan manusia-manusia robot dan mekanis ketimbang manusia yang imajinatif, kreatif, dan berbudaya.

Umat Islam yang mengaku mengimani Al-Quran, tapi mayoritas mereka masih tertinggal di Dunia Ketiga dengan segala keterbelakangan, kemiskinan, dan kebodohan itu, tampaknya masih terlalu jauh untuk dapat ditampilkan sebagai pencipta dan dan pembawa obor peradaban baru yang segar, yang mungkin menjadi alternatif  bagi umat manusia.

Kita mungkin sepakat bahwa peradaban yang akan datang itu haruslah sebuah peradaban yang ramah, yang menempatkan fitrah manusia pada posisi yang wajar, tidak pada posisi yang tanpa daya, dan tidak pula pada posisi yang congkak antroposentrik, yaitu tipe manusia yang dihasilkan oleh peradaban renaissance Eropa.

Dalam peradaban Barat (renaissance Eropa), pola pikir dan nalar telah mendominasi dunia pendidikan, sementara pola zikir dan cinta (hubb) menjadi sangat telantar. Manusia fikir dan nalar memang telah berhasil menaklukan alam secara spektakuler, tetapi ia semakin kehilangan orientasi spritual. Pada abad modern, peradaban renaissance Eropa telah melahirkan orang-orang seperti Nietzsche, Bertrand Russell, Sartre, dan lain-lain.

Pendidikan Barat mendasarkan diri pada penalaran dan rasionalitas, yang hal ini bertanggung jawab terhadap tumbuhkembangnya individualisme, skeptisisme, keengganan menerima hal-hal yang tidak dapat ditampilkan secara observasional, sikap menjauhi hal-hal yang bersifat teosentrik (Ilahiah), dan lebih cenderung ke hal-hal yang antroposentrik (basyariah).

Pendidikan Barat yang telah beberapa abad ini mendominasi dunia, bertolak dari ajaran yang memisahkan ilmu dari tata hirarki nilai, dan hanya menggunakan satu nilai saja, yaitu objektif-netral. Ilmu dan teknologi dikembangkan objektif tidak memihak.

Islam mengembangkan ilmu bertolak dari Iman, Islam, dan Ihsan. Ilmu dan teknologi dikembangkan untuk memupuk keimanan kita, bukan untuk mengeroposinya. Metodologi berpikir harus tertata sinkron dan sekaligus koheren dengan keimanan kita kepada Allah, Rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, malaikat-malaikat-Nya, hari akhir, dan takdir.

Di samping itu, pendidikan juga harus memperhatikan abilitas manusia. Dalam hal ini, Gardner (1983) memetakan abilitas manusia ke dalam tujuh kategori komprehensif yang disebut dengan multople intelligence atau kecerdasan multipel.

  1. Intelegensi linguistik (linguistoc intelligence), berupa kemampuan manusia untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik lisan maupun tulisan, bukan hanya sekedar membaca, berbicara, dan menulis secara nominal.
  2. Intelegensi logikal matematikal (logical-mathematocal  intelligence), berupa kemampuan manusia dalam menggunakan angka-angka secara efektif, yang diharapkan nanti anak didik dipersiapkan menjadi ahli matematika, akuntan pajak, atau ahli statistik.
  3. Intelegensi spasial (spacial intellegince), berupa kemampuan manusia untuk mencerna dunia visual secara akurat, seperti pengembangan kecakapan dalam bidang keterampilan artistik, dekorasi interior, dan arsitektur.
  4. Intelegensi bodily kinesthetoc intelligence, yaitu kemampuan manusia dalam menggunakan  anggota badan untuk mengekspresikan ide dan perasaan, seperti aktor, badut, penyanyi, dan atlit.
  5. Intelegensi musikal (musical intelligence), yaitu kemampuan manusia dalam mempersepsi, membedakan, mentransformasikan, dan meng-ekspresikan aneka bentuk musik, termasuk sensitivitas ritme, melodi, dan jenis musik.
  6. Intelegensi interpersonal (interpersonal intelligence), yaitu kemampuan manusia dalam mempersepsi dan membuat perbedaan dalam suasana, intensi, motivasi, dan perasaan orang per orang, termasuk sensitivitas ekspresi muka, suara, mimik, kemampuan membedakan aneka ragam wacana interpersonal, dan kemampuan merespons wacana interpersonal secara pragmatis.
  7. Intelegensi intrapersonal (intrapersonal intelligence), yaitu kemampuan untuk bertindak sesuai dengan basis keilmuan yang ada padanya, misalnya, kemampuan untuk memahami diri sendiri secara akurat, baik keunggulan maupun kelemahannya. Inteligensi ini dapat juga melihat kesukaan pribadi, intensi, motivasi, temperamen, disiplin diri, memahami diri sendiri, dan harga diri.

Demikian artikel yang membahas mengenai Problematika Kontemporer Islam, Faktor Pengabaian Pendidikan Islam, Abilitas Manusia. Semoga artikel ini dapat bermanfaat sebagai acuan refrensi anda.

Sumber : Tesis Pendidikan Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *